Jakarta (25/8) – Maritim memiliki peran penting dalam meningkankan kesejahteraan dan pertahanan di suatu negara, namun dengan segala kekayaan yang ada maka besar juga ancaman keamanan maritim menjadi permasalahan luas global yang masih ada hingga saat ini merupakan kejahatan maritim, Kejahatan maritim adalah kejahatan yang terjadi di laut. Menurut Dr. Collin Koh Sween LeanResearch Fellow at the S. Rajaratnam School of Internatiomal Studies (Naval/Maritime Affairs) mengatakan Kejahatan terorganisasi internasional yang marak terjadi di maritim mengenai penyuludapan produk hasil pertanian, penyeludupan hasil laut, penangkapan ikan ilegal dan lainnya akan berdampak inflasi kepada perdagangan global.
Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional Republik Indonesia, Dr. Andi Widjajanto, pada hari pertama pelaksanaan kegiatan The 6th Geopolitical Forum 2022 Geomaritime: Chasing The Future Of Global Stability di hari pertama (24/8), mengatakan “Maritim merupakan salah satu lintasan yang mudah untuk melakukan penyeludupan, Untuk menghindari penyeludupan tersebut maka membuat pertahanan pada maritim dengan membuat anti akses dan anti area denial dibentuk dan kembangkan dibanyak negara untuk mencegah potensi inflasi global”.
Selain itu bentuk pertahanan maritim yang dilakukan oleh Indonesia dengan mempersiapkan peningkatkan krisis global dalam komoditas pangan, Indonesia memastikan bahwa peningkatkan komoditas dapat di manage 0,5% kredit untuk meningkatkan mengendalikan tingkat inflasi kota utama yang ada di Indonesia, seperti Sumatera, Jawa, Sulawesi dan kota lainnya. Semakin kesini semakin besar tantangan yang diterima oleh negara, negara maritim harus dapat meningkatkan keamanan agar tidak adalagi penyeludupan di tiap-tiap negara.
Kegiatan dilanjutkan pada hari ini (25/8), pada hari kedua ini, Senior pada The Brookings Institutes in Taiwan Studies, Ryan Hass, mengatakan bahwa pada beberapa tahun ke depan akan terdapat persaingan kekuatan maritim di Asia, hal ini diakibatkan karena Tiongkok yang sedang meningkatkan kekuatan maritimnya untuk mencapai apa yang diinginkannya. “Tiongkok hingga hari ini melakukan pengembangan terhadap pengembangan teknologi maritim yang dimilikinya, dan tentu saja tidak hanya di Asia saja, tapi bahkan di seluruh dunia juga melakukan pengembangan teknologinya, seperti Amerika, Australia, dan Inggris,” ucap Ryan.
Disisi lain, Prof. Tirta Nugraha Mursitama, Guru Besar Universitas Bina Nusantara, mengatakan jika pemerintah tidak bisa mengesampingkan teknologi dalam pengembangan geopolitik. Hal ini juga diamini oleh Prof. Dadan Umar Daihani, Tenaga Profesional Bidang Sumber Kekayaan Alam dan Ketahanan Nasional Lemhannas RI. “Kita tidak tahu apakah nanti suatu saat dunia virtual dapat menjadi nyata, pastinya hal ini akan mempengaruhi bagaimana kekuatan kemaritiman di seluruh dunia, begitu juga Geopolitik di dunia,” ujar Dadan.
Kekuatan Maritim, juga tidak lepas dari Sumber Daya Manusia yang ada, Wibawanto Nugroho Widodo, Deputy Head of Defense and Security, IKAL Strategic Center, karena tanpa adanya manusia yang menggerakkan, teknologi juga tidak dapat berkembang dengan maksimal. Selain itu pada hari kedua ini juga menghadirkan Dr. Allan Dupont, founder and CEO of the Cognoscenti Group, sebagai narasumber.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pertahanan maritim agar tidak ada lagi penyeludupan dalam bentuk apapun itu. Secara daring, Plt. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM, Iwan Kurniawan, dan Kepala Pusat Pengelola Data dan Informasi, Aman Riyadi menghadiri kegiatan yang diadakan selama dua hari ini. (*Humas)


 (3)-120x86.png)





